Engkau Lelaki…Kelak Sendiri

“Duduk sini nak dekat sama bapak

Jangan kau ganggu ibumu

Turunlah lekas dari pangkuannya

Engkau lelaki…kelak sendiri”

Syair di atas adalah penggalan lirik lagu lawas bang Iwan Fals yang pernah populer beberapa tahun lalu. Saya tidak tahu suasana hati bang Iwan Fals ketika menciptakan lirik di atas, saya hanya tahu kurang lebih kata-kata seperti di atas itulah yang ingin saya sampaikan ketika melihat anak lelaki saya rewel dan merengek terus di pangkuan ibunya. Tapi bagaimana mengatakannya?

Aryapamuk, anak lelaki itu saat ini hanyalah seorang bocah berumur dua tahun lebih enam bulan. Bagaimana dia  bisa menangkap dan mengerti pesan yang yang ingin disampaikan bapaknya ? Karena kehabisan akal, akhirnya pesan itu diposting saja di blog ini. Dengan harapan pada satu hari kelak dia akan bisa membaca dan memahami salah satu pesan dari bapaknya.

Ini adalah pesan buat engkau anakku. Bapak memang tidak tahu pasti maksud bang Iwan Fals dengan lirik tersebut. Penafsiran pesan ini adalah berdasarkan versi bapak sendiri. Paling tidak ada beberapa poin yang bisa ditangkap dari lirik di atas, diantaranya adalah ketegaran yang harus dimiliki seorang lelaki, jangan cengeng atau manja dan engkau pun harus membantu ibumu bukan mengganggunya dengan rengekan dan tangisan.

Mengenai kalimat “engkau lelaki…kelak sendiri” dalam benak bapak terlintas banyak persepsi. Bisa berarti suatu saat nanti engkau akan seperti anak panah yang melesat mencari sasaran, target, atau tujuan hidupmu sendiri, lepas dari kawalan orang tua. Mungkin juga seperti analogi burung elang yang terbang sendiri di  ketinggian berburu mangsanya. Pada waktunya, engkau juga akan berburu kebahagiaan, entah lewat jodoh pasangan yang menjadi “soul mate” sehidup semati yang dibungkus dalam cangkang pernikahan, entah jodoh bisnis atau pekerjaan, entah jodoh pangkat atau jabatan, semua serba mungkin.

Bisa juga berarti, bahwa engkau akan menjadi kepala dan tulang punggung keluarga dengan segala konsekuensi yang mungkin akan dipikul sendiri di pundakmu. Paling sedikit, engkau akan menjadi pelaksana fungsi perlindungan dalam keluarga, terutama dari ancaman bersifat fisik yang datang dari luar. Karena itu, biasakanlah menelan pahit getir kehidupan dengan mandiri.

Jika waktunya tiba dan engkau sudah siap menjadi elang pemburu kebahagiaan, matamu harus benar-benar setajam mata elang. Jangan dikaburkan oleh kebahagiaan semu. Carilah jenis kebahagiaan yang bisa engkau nikmati selamanya di alam kelanggengan.

Camkan pula dalam hatimu, bahwa kebahagiaan itu bukan lah “something from external”, tapi sesuatu yang berasal dari internal dirimu sendiri. Ilustrasinya kira-kira seperti ini, dua orang anak diberi hadiah yang sama, sebut saja mainan mobil-mobilan, anak yang satu bahagia karena memang sukanya mobil-mobilan, sedangkan anak yang lain kecewa karena sukanya pistol-pistolan. Berarti bukan hadiahnya yang membuat seseorang bahagia, tapi reaksi yang datang dari dalam hatinya lah yang menentukan.

Seseorang baru akan bisa bahagia jika dia mampu menerima kenyataan dan mensyukuri apa pun yang diperolehnya. Meskipun ingin, bapak tidak bisa memberimu kebahagiaan. Sebab pada realitanya hanya engkau sendiri yang dapat menentukan dan menemukan jenis kebahagiaanmu.

Engkau harus seperti mercusuar tinggi yang meskipun berdiri sendirian di tengah pulau tak berpenghuni, namun kehadirannya menjadi pandu navigasi bagi kapal-kapal di tengah lautan dalam menentukan arah tujuan. Jadilah bintang dalam galaksi, pemberi sinar dalam kegelapan malam dan kemilaunya bahkan sampai ke bumi yang jaraknya bertahun-tahun cahaya. Berusaha lah menjadi penerang buat sesama.

Sebagaimana layaknya bermacam makanan instan yang dipajang dan dijajakan di super market atau tempat lainnya, pasti ada “expire date”-nya, begitu pula dengan masa hidup bapak pasti ada tanggal kadaluarsanya. Seberapa lama jatah kita hidup, tidak ada yang pernah tahu. Yang jelas, kebanyakan dari kita berjuang mati-matian untuk bertahan hidup, tapi jarang yang mempersiapkan diri untuk menerima kematian.

Padahal, ibarat dua sisi koin uang, kehidupan dan kematian pun dihadirkan dalam satu paket oleh Sang Empunya Kehidupan. Kematian ditakdirkan sebagai konsekuensi logis dari adanya kehidupan. Maka, jika ajal siap menjemput, jika ucapan perpisahan siap dilontarkan, pada titik itu pula segala perjuangan berhenti.

Bersiap lah! Sekarang pun kita sedang berada dalam baris antrean menuju kematian. Kita hanya sedang menunggu nomor urut antrean atau nama kita dipanggil, dengan segera kita akan segera memasuki apa yang disebut kematian. Dan menempuh babak baru, kehidupan setelah kematian.

Siapa yang tahu akan masa depan ? Tidak ada seorang pun dapat meramalkan dengan pasti, apa yang akan terjadi di masa datang. Maka dari itu, lewat blog ini bapak menuliskan pesan untukmu sekarang, anggap saja sebagai tindakan preventif atau berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk. Karena, pada saat engkau membaca tulisan ini, mungkin saja bapak sudah tak ada lagi di dunia ini. Who knows ?

Sekarang ini, cukup sekian dulu pesan bapak. Ini adalah bait pertama dari serangkaian bait pesan atau nasihat bapak. Lain waktu, kalau masih ada umur dan Tuhan mengizinkan akan bapak tuliskan pesan lainnya. Tentu saja pesan ini diproyeksikan untuk masa depan, sebab saat ini engkau hanyalah seorang bocah yang belum banyak mengerti tentang hidup dan kehidupan.

Jangankan anak seumurmu, bahkan buat manusia dewasa pun, masih banyak peristiwa atau kejadian yang tidak dapat dimengerti dengan jelas oleh akal pikiran dan biasanya cukup dirumuskan dengan istilah “takdir”. Engkau juga belum tahu, bahwa kadang kala dunia ini tidak seramah kelihatannya. Engkau harus senantiasa hati-hati dan mawas diri karena banyak kecurangan dan kemunafikan yang dibungkus oleh topeng kebaikan semu. Waspada lah!!!

Dan sebagai pengingat, inilah fotomu saat tulisan ini diposting :

barkatlangit.wordpress.com :-) Sharing whatever can be shared

 

6 gagasan untuk “Engkau Lelaki…Kelak Sendiri

  1. Maaf baru berkunjung kembali Mas, maklum saya baru bisa buka blog lagi hehe…rupanya Mas Danis juga lagi sibuk ya?, ditunggu lho postingan selanjutnya dari Mas Danis :)
    Salam.

  2. Gak usah sampai terlalu dewasa, umut 14 Arya pamuk pasti sdh akan termehek2 baca tulisan ini Mas Danis. Turut berdoa semoga harapan mas Danis terkabul hendaknya. Amin

  3. Naluri seorang Ayah atas Anaknya…
    Saya tidak bisa berkata banyak Mas, ini sangat berharga. Semoga saja sang Lelaki Kecil itu kelak akan ‘menggenggam’ dunianya.
    Dan untuk Lelaki kecil, salam hangat dari Om Rudy hehe…. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s