prinsip inti

PRINSIP INTI DALAM INVESTASI SAHAM

PRINSIP INTI DALAM INVESTASI SAHAM

Dalam tulisan kali ini, saya akan mencoba mengulas beberapa prinsip inti atau prinsip dasar dalam bidang investasi saham yang dikemukakan oleh Benjamin Graham. Siapakah Benjamin graham ini ? Bagi orang yang biasa bergelut dalam bidang ekonomi dan keuangan ataupun bidang investasi, sosok Benjamin Graham ini tentunya sudah tidak asing lagi. Benjamin graham ini diakui atau tidak adalah merupakan salah satu orang yang menjadi penggagas teori investasi modern. Ajarannya menjadi inspirasi bagi seorang Warren Buffet yang merupakan investor tersukses abad ini. Tidak hanya itu, secara keseluruhan Benjamin Graham bahkan menjadi figur kedua yang paling berpengaruh bagi kehidupan Warren Buffet selain ayahnya. Bahkan secara gamblang Warren Buffet pun mengakui bahwa Benjamin Graham ini menjadi gurunya dalam dunia investasi.

Bagi anda yang senang investasi saham atau pun para calon investor saham, jika mau menyelami 5 prinsip inti ini dan kemudian berhasil mengaplikasikannya dalam berinvestasi saham di pasar modal atau bursa efek Indonesia secara benar dan konsisten, paling sedikitnya akan membantu anda meminimalisir tingkat kerugian yang mungkin terjadi. Bukan tidak mungkin pula akan membuat anda meraih profit / keuntungan di level yang belum pernah anda capai sebelumnya.

Melalui proses pembelajaran yang cukup panjang dan pernah pula mengalami kegagalan investasi, lambat laun berkat hasil penggabungan kekuatan intelektual yang luar biasa, penalaran yang dalam serta pengalaman yang sangat luas, akhirnya Benjamin Graham berhasil mengembangkan Prinsip-prinsip intinya. Setidaknya kelima prinsip ini masih saya anggap relevan dan valid sampai saat ini sejak masa hidupnya.

Sekarang saya akan mencoba membahasnya satu persatu.

Prinsip Pertama

·         Saham tidak hanya sekedar simbol ticker atau kedipan elektronik di layar monitor; saham adalah suatu kepentingan kepemilikan dalam bisnis aktual, dan bisnis itu memiliki nilai fundamental yang tidak bergantung pada nilai sahamnya.

Ulasan :

Prinsip ini mengajarkan kepada para investor atau calon investor supaya jangan terjebak melihat saham dari angel atau sudut pandang yang salah. Apa yang tampil di layar monitor belum tentu merupakan cerminan dari nilai bisnis sebenarnya dari saham tersebut. Maksudnya, jika kita membeli suatu saham berarti kita membeli nilai fundamental dari bisnis yang ada dibalik saham tersebut, bukan sekedar membeli saham emiten atau perusahaan publik dengan harga yang ditunjukkan dalam layar monitor.

Supaya tidak membuat bingung, pertama-tama kita harus bisa membedakan dengan jelas antara nilai saham/nilai pasar dengan nilai fundamental/nilai bisnis dari saham tersebut.

Nilai saham adalah nilai yang terbentuk sebagai akibat dari fluktuasi pasar yang digerakkan oleh berbagai variabel, seperti : supply & demand (penawaran & permintaan), rumors, corporate action, market maker, para spekulator, inflasi, tingkat suku bunga bank, kondisi psikologis para pelaku pasar, dsb. Nilai saham atau nilai pasar ini bisa jadi lebih tinggi atau lebih rendah dari nilai fundamental atau nilai bisnis yang sebenarnya dari suatu saham tersebut. Apalagi dalam saat dan kondisi tertentu, pasar sering menunjukkan gejala irasional atau sifat ketakrasionalan yang melenceng jauh dari nilai fundamental yang sebenarnya.

Nilai Fundamental adalah nilai bisnis sebenarnya yang terkandung di balik suatu saham perusahaan publik. Hal ini biasanya bisa diukur dengan cara analisa fundamental terhadap perusahaan tersebut, melalui proses audit laporan keuangan yang wajib dipublikasikan kepada masyarakat luas terutama para pemegang sahamnya, baik lewat jalur media masa atau pun lewat BAPEPAM. Apa yang dibutuhkan oleh para investor untuk mengetahui nilai fundamental ini, hanyalah sedikit kecakapan dan ketelitian akuntansi serta kemauan untuk menelusuri laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan publik tersebut.

Dari berbagai indikator rasio akuntansi dalam laporan keuangan itu harusnya kita bisa menentukan berapa nilai fundamental suatu perusahaan publik tersebut, dan kemudian membandingkannya dengan nilai saham atau nilai pasar. Jika nilai fundamental/nilai bisnis lebih rendah dari nilai saham/nilai pasar artinya harga saham tersebut relatif mahal. Sebaliknya jika nilai fundamental/nilai bisnis nya lebih tinggi dari nilai saham/nilai pasar berarti harga saham itu relatif murah. Dengan begitu kita bisa memutuskan apakah akan membeli atau tidak, menjual atau tidak.

Catatan penting pertama yang tidak boleh diabaikan dalam investasi saham adalah periode waktu. Bagi anda yang memiliki “uang dingin” yang cukup, dianjurkan investasi dalam jangka panjang dengan syarat memilih perusahaan publik yang memiliki nilai fundamental/nilai bisnis yang bagus. Maksudnya adalah perusahaan publik yang nilai saham/nilai pasarnya murah, kondisi keuangan dan manajemennya baik, nilai fundamental/nilai bisnisnya bagus serta mempunyai prosfek cemerlang di masa depan. Berdasarkan siklus sejarah biasanya saham perusahaan publik model begini kemungkinan besar akan memberi keuntungan berlipat ganda jika diinvestasikan dalam jangka panjang.

Catatan penting kedua adalah jangan terperangkap dengan kata “MURAH”. Harga sahamnya murah belum memastikan perusahaannya sehat. Lakukan analisa fundamental perusahaan secara akurat dan mendalam sehingga kita bisa tahu, apakah murahnya berkonotasi positif atau malah negatif menuju jurang kebangkrutan.

Prinsip Kedua

·         Pasar adalah sebuah pendulum yang selamanya mengayun antara optimisme temporer (yang menjadikan harga saham terlalu mahal) dan pesimisme tak berdasar (yang menjadikan harga saham terlalu murah). Investor pintar adalah seorang realis yang menjual sahamnya kepada orang optimistis dan membelinya dari orang pesimistis.

Ulasan :

Prinsip ini memberitahu kepada para investor atau calon investor, bahwa apa yang terjadi di pasar merupakan gambaran nyata dari kombinasi dua sifat alamiah dasar manusia, yaitu ketamakan dan ketakutan. Di mana ketamakan mewakili optimisme temporer dan ketakutan menjadi duta dari pesimisme tak berdasar. Pasar secara terus menerus terombang-ambing terseret oleh dua pembawaan natural para pelaku pasar ini, kadang naik terkadang turun. Persis seperti pendulum atau ayunan anak-anak TK bergerak ke atas dan ke bawah tergantung mood para pelakunya. Tingkat optimisme/ketamakan dan pesimisme/ketakutan para pelaku pasar yang berlebihan sering kali melahirkan situasi pasar yang familiar dikenal dengan istilah panic buying dan panic selling. Atau secara umum para pengamat pasar dan pelaku ekonomi  menamakannya kondisi psikologis pasar.

Realitas pasar seperti itu kadang kala penyebabnya jelas dan berdasar, seperti adanya bencana alam, kerusuhan, kekisruhan politik, terorisme, kondisi chaos yang ekstrem,  dsb. Adakalanya juga penyebabnya tak jelas dan tak berdasar. Mungkin saja disebabkan oleh tindakan spekulatif dari beberapa kalangan tertentu yang menular kepada para pelaku pasar lainnya.

Prinsip kedua ini memberi wejangan kepada kita agar menjadi investor pintar yang terampil bermain di antara optimisme temporer dan pesimisme tak berdasar para pelaku pasar lainnya. Cerdas memanfaatkan momentum di sela-sela ketamakan dan ketakutan para pelaku pasar lain. Tahu dengan pasti, kapan dan kepada siapa harus membeli atau menjual. Kata kunci supaya bisa berpikir dan bertindak pintar seperti itu adalah disiplin dan konsistensi pengendalian emosi dalam menerapkan prinsip dasar investasi. Jangan ikut hanyut terjebak dalam pusaran ketamakan dan ketakutan. Singkatnya kita harus optimis pada saat para pelaku pasar lain sedang pesimis dan kita harus merasa ketakutan pada saat para pelaku pasar lain menunjukkan ketamakannya.

Prinsip Ketiga

·         Nilai masa depan dari setiap investasi adalah fungsi dari harga sekarangnya. Makin tinggi harga yang anda bayar, makin rendah return yang anda nikmati.

Ulasan :

Prinsip ketiga ini mewanti-wanti kepada kita agar berhati-hati memilih dan mengambil keputusan investasi di masa sekarang, karena apa yang kita pilih dan kita putuskan hari ini akan menentukan besar kecilnya return atau tingkat perolehan kembali di masa depan, malah mungkin menentukan pula apakah keuntungan atau kerugian yang akan diperoleh nanti? Jika harga investasi yang kita beli atau kita bayar sekarang terlalu tinggi kemungkinan kita tidak akan memperoleh apa-apa di masa depan.

Ilustrasinya kira-kira seperti ini,  jika hari ini kita membeli atau membayar 2 macam investasi di 2 level harga berbeda sebut saja saham A RP. 1000 dan saham B RP. 3000 kemudian kita imajinasikan 10 tahun kemudian nilai kedua macam investasi itu ternyata sama di kisaran Rp.5000, maka tingkat return dari saham A adalah Rp.5000 – Rp.1000 = Rp. 4000 sedangkan dari saham B adalah RP.5000 – RP.3000 = Rp.2000. Maka jelas terlihat tingkat return dari saham A lebih besar daripada saham B, ini terjadi karena nilai yang kita bayar untuk investasi di saham A pada hari ini lebih rendah dibanding nilai investasi saham B.

Prinsip ketiga ini juga mengirim pesan tersirat kepada kita, seandainya pada masa sekarang ada 2 opsi atau pilihan investasi antara perusahaan ternama yang sudah terlalu tinggi harga sahamnya dengan perusahaan menengah sedang berkembang yang relatif masih murah harganya, maka manakah yang harus kita pilih? Untuk investasi jangka panjang, tentu saja kita akan lebih condong memilih perusahaan menengah sedang berkembang yang sehat serta mempunyai prospek indah di masa datang. Apalagi jika harga perusahaan ternama itu sudah mendekati puncaknya, biasanya apa pun yang sudah sampai pada puncaknya tinggal menunggu saatnya untuk turun. Pepatah kuno pun mengatakan demikian “jika sudah menemukan jalan sampai ke puncak gunung maka pasti akan menemukan jalan lainnya untuk turun”.

Ingat ! Fungsi dari harga investasi yang kita bayar di masa sekarang pasti akan berjalan di masa depan. Berhati-hati dan bersabar dalam menentukan investasi hari ini adalah password yang akan menentukan tingkat return di masa depan, besar atau kecil ? untungkah atau rugi-kah ? Lebih baik bersikap sedikit konservatif tapi terkontrol daripada agresif tapi konyol.

Prinsip keempat

·         Tidak peduli seberapa pun hati-hatinya anda, satu-satunya risiko yang tidak bisa dihilangkan oleh investor mana pun adalah risiko melakukan kesalahan. Hanya dengan tetap mempertahankan apa yang disebut Graham sebagai “margin pengaman”—tidak membayar berlebihan, semenarik apa pun tampaknya suatu investasi—anda akan bisa meminimalisasi kesalahan yang tidak perlu.

Ulasan :

Prinsip keempat ini berkaitan erat dengan prinsip ketiga dan mengirim sinyal early warning atau peringatan dini kepada kita, bahwa sehebat apa pun diri kita tetaplah merupakan mahluk yang disebut manusia,  memiliki dimensi keterbatasan dan tidak luput dari dosa dan kesalahan dalam bidang apa pun termasuk dalam dunia investasi. Kita harus mempunyai instrument untuk mendeteksi celah-celah kesalahan, memasang filter untuk menyaring informasi yang masuk apakah berupa data dan fakta atau kah opini dan rumor semata? Hingga walau pun kita diiming-imingi janji muluk, dihembusi angin sorga, dibakar rumor dan kondisi psikologis pasar, kita tetap tidak akan tergoda semenarik apa pun investasi yang terlihat di depan mata, karena kita memiliki mata lain di belakang kepala berupa margin pengaman dengan dalil tidak mau membayar berlebihan untuk investasi jenis apa pun.

Risiko melakukan kesalahan yang tidak bisa dihilangkan ini, sudah sepantasnya tidak membuat kita takut untuk berinvestasi, adakalanya pengalaman berbuat kesalahan malah menunjukkan kita jalan kebenaran. Kita tahu sesuatu itu benar karena ada pasangannya yaitu sesuatu yang salah, sebagaimana kita memahami malam karena adanya siang, atau kita bisa tahu mana kanan karena adanya kiri. Ibu kita Kartini pun bilang habis gelap terbitlah terang, habis salah muncullah benar. Selayaknya risiko melakukan kesalahan ini hanyalah merupakan lampu kuning bagi kita agar berhati-hati dalam investasi, kita harus melihat lampu selanjutnya apakah lampu merah atau lampu hijau. Dengan begitu, baru kita bisa tahu apakah harus berhenti untuk sesaat atau harus jalan lagi agar bisa meminimalkan risiko untuk tidak memperbuat kesalahan yang tidak perlu.

Prinsip Kelima

·         Rahasia keberhasilan keuangan anda ada pada diri anda sendiri. Jika anda menjadi seorang pemikir kritis yang menolak untuk percaya begitu saja pada “fakta” di pasar/bursa, dan anda berinvestasi dengan kepercayaan diri dan kesabaran, anda akan tetap bisa memperoleh keuntungan yang stabil walau dari pasar bearish yang terburuk sekalipun. Dengan mengembangkan disiplin dan keberanian, anda tidak akan membiarkan perubahan perilaku orang lain menentukan masa depan financial anda. Akhirnya, hal yang jauh lebih penting sebenarnya bukan bagaimana perilaku investasi anda, tetapi bagaimana perilaku anda.

Ulasan :

Prinsip kelima ini merupakan rangkaian episode sambungan dari prinsip kedua. Intinya adalah kita harus mempunyai sikap kritis, kepercayaan diri, kesabaran, menjadi diri sendiri dan tidak disetir oleh pelaku pasar lainnya. Gonjang-ganjing kondisi psikologis pasar  bukanlah penentu masa depan financial kita. Justru kita dituntut mengembangkan kelincahan bermanuver memanfaatkan momentum dari perubahan perilaku orang lain di pasar, bukan sebaliknya. Perilaku investasi anda adalah cerminan perilaku anda, jika anda berkarakter ceroboh maka pola investasi anda pun kemungkinan akan bersifat ceroboh pula dan membuat orang lain memiliki peluang untuk memanfaatkan kecerobohan anda.

Maka dari itu kita harus bisa memanage dengan baik seluruh sistem kepribadian kita supaya menjadi manusia paripurna yang oleh orang sunda dibilang “kudu masagi”. Sehingga dalam kondisi pasar macam apa pun, baik bullish atau bearish  kita tetap dapat memperoleh keuntungan yang stabil, karena kita mampu mengeksploitasi habis-habisan skill, disiplin dan keberanian kita secara terukur.

Terakhir sekali lagi, hati-hati lah dengan kata “FAKTA” di pasar, pastikan bukan rumor dan opini belaka.

Barkatlangit.wordpress.com

Berbagi apa pun yang pernah dilihat, didengar, dirasa dan dialami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s