morality crisis

Krisis spiritual, etika dan moral

Urgensi nilai-nilai etika & moral di  era modern

Pertanyaan menarik yang bisa diajukan di awal tulisan ini adalah “apakah nilai-nilai hidup sama dengan dogmatisme?” dan ”apakah dogmatisme selalu berarti intoleransi ?”  Kalau kerangka berfikir kita menjawab “Ya”, maka itu berarti bahwa nilai-nilai hidup menjadi representasi antitesis dari keterbukaan pikiran dan kebebasan pendapat yang selalu diagung-agungkan di era modern ini. Dan oleh karenanya, tentu akan muncul anggapan bahwa kita tidak lagi memerlukan nilai-nilai etika dan moral di abad modern ini. Benarkah anggapan seperti itu ?

Mengapa kita harus mengajukan pertanyaan di atas ? Karena begitu kuatnya fenomena yang muncul dewasa ini, di mana sebagian besar dari kita telah kehilangan perhatian pada pedoman spiritual, etika, kebenaran, kehormatan dan keadilan dalam menjalani kehidupan sosial bermasyarakat. Tidak percaya ? Coba saja perhatikan lingkungan sekitar kita atau luangkan waktu dan simak apa yang dimuat dan ditayangkan oleh media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Hampir setiap hari kita disuguhi berita/informasi yang berkaitan dengan tindak kriminalitas, korupsi, terorisme, tindakan kekerasan dari satu golongan terhadap golongan lain, pembunuhan karena hal sepele, tawuran pelajar, pelanggaran norma susila, pelecehan intelektual, banjir iklan yang mendorong pola konsumtif berlebihan, sinetron yang mengeksploitasi gaya hidup modern dsb.

Semua itu menjadi refleksi dari terjadinya krisis kesadaran dan pemikiran akan pentingnya nilai-nilai hidup. Meskipun masih ada tayangan positif dan bersifat edukatif, tapi porsinya sangat kecil jika dibandingkan dengan yang bersifat negatif. Masyarakat kita menjadi sedemikian permisif bahkan terhadap hal-hal yang dianggap pelanggaran etika dan moral, sehingga kontrol sosial tidak berjalan sebagai mana mestinya.

Secara umum harus diakui, bahwa kita hidup di zaman krisis. Tanda-tandanya dengan jelas dapat dilihat dimana-mana. Pola hidup serba cepat dan kacau telah sungguh-sungguh menyerang kesehatan jiwa kita. Apa yang terjadi dalam dunia lalu lintas setidaknya bisa memberi gambaran bahwa banyak dari kita sedang terganggu kesehatan jiwanya. Saling serobot dan pelanggaran terhadap rambu lalu lintas menjadi pemandangan biasa, dan sepertinya memperoleh pembenaran karena dilakukan secara massal beramai-ramai.

Begitu pun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, saling serobot dan pelanggaran rambu-rambu sosial dan agama juga terjadi secara masal dan terus menerus, maka muncullah istilah “korupsi berjamaah”, “berbohong berjamaah”, “penindasan berjamaah”, dan sebagainya.  Di bidang spritual terjadi kebingungan yang dipicu oleh pertentangan mazhab atau ideologi. Moralitas dipandang secara sinis dan hanya menjadi jargon kosong tanpa makna.

Akibatnya, banyak dari kita bicara tentang “perdamaian” tapi melakukan intimidasi terhadap pihak lain. Kita berbicara tentang “kemakmuran”, namun menyeret diri kita sendiri ke dalam utang yang mencemaskan. Banyak orang meneriakkan “kemerdekaan”, namun menuntut orang lain untuk menyamakan cita-cita, tujuan dan kebebasannya persis seperti diri mereka. “Persamaan hak” seringkali menjadi hukuman bagi keunggulan individual dan kata “kebersamaan” menjadi slogan yang membelenggu inisiatif.

Ilmu pengetahuan dan teknologi abad modern telah memberi banyak berkah yang melimpah kepada umat manusia. Memperluas akses, memberi kemudahan informasi dan materi serta memperluas cakrawala pemikirannya. Di sisi lain, ilmu pengetahuan dan teknologi abad modern ini sekaligus juga menjadi ujian terbesar yang pernah dihadapi manusia.

Jika lepas kontrol karena ketidak-seimbangan kodrat manusia, bisa jadi kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi ini akan menjadi sebab kehancuran umat manusia, baik secara moral maupun secara fisik, contohnya penyalahgunaan kebebasan informasi dan bom nuklir. Hal ini menuntut kita mempertaruhkan segenap kemampuan kita untuk menyeimbangkan prestasi lahiriah dengan pencerahan bathiniah. Apakah ketidakseimbangan kodrati manusia bisa diperbaiki ? Tujuan setidaknya bisa dicapai jika kita berpikir hal itu bisa dicapai.

Kita bisa bertanya pada diri sendiri, di manakah sekarang kita harus meletakkan konsepsi-konsepsi manusia tentang benar dan salah ? Apakah bukti nyata kesempurnaan hukum Allah, tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan logis sama sekali? Jika kita merasakan kebutuhan untuk memperkuat moralitas kita, ilmu-ilmu fisik tentu saja tampak tidak memberikan apa pun kepada kita. Namun demikian, dari sudut pandang manusia, bagaimana pun juga masih ada kata sepakat dalam hal-hal positif tertentu, seperti kerja sama, kehormatan dan kejujuran atau dalam hal-hal kualitas berlawanan seperti ketidaksetiaan, kelemahan karakter dan ketidakjujuran yang merupakan sifat-sifat yang diasumsikan tidak disetujui oleh semua orang.

Karenanya diakui atau tidak, dibutuhkan kekuatan etika dan moral untuk membangun suatu masyarakat yang kuat dan damai. Dibutuhkan pemahaman terhadap kekuatan etika dan moral untuk menahan dorongan-dorongan kesenangan sesaat melebihi dorongan-dorongan pemenuhan yang abadi. Tidak ada seorang pun, jika ia tidak percaya terhadap etika dan nilai moral dengan sungguh-sungguh, dapat tetap bertahan dengan apa pun atau siapa pun melalui badai dan cobaan hidup. Dia hanya akan menjadi seorang pengembara nafsu, bergerak dengan arus-arus kesenangan pribadinya.

Tidak diragukan lagi, bahwa dunia akan selalu mempunyai orang-orang sinisnya. Bahkan ketika keyakinan-keyakinan spiritual dan nilai-nilai kebenaran telah disebarluaskan, tetap akan ada orang-orang yang menentangnya, atau yang menjual hati nurani mereka demi uang atau popularitas semata. Yang perlu disadari bersama, adalah jangan sampai perilaku-perilaku negatif destruktif seperti itu, menjadi virus atau penyakit epidemik yang menulari semua orang, terutama sekali generasi  keturunan kita.

Krisis kita saat ini mungkin dapat disebut sebagai krisis tujuan hidup, sebagai proses pencarian yang masih sia-sia karena belum dapat menemukan nilai-nilai hakiki untuk dijadikan pedoman arah pencapaian esensi dari tujuan kita diciptakan di dunia ini. Tanpa keyakinan dan kesadaran akan kebermaknaan hidup, maka hidup itu sendiri ada dalam posisi bahaya dan bisa menjadi sebuah mimpi buruk bagi yang menjalaninya.

Oleh karena itu, keyakinan kita harus jujur dan didasarkan pada penelitian atau pengkajian yang cerdas. Kita tidak bisa mencari tempat berlindung dari hal-hal yang tidak menyenangkan dalam kesalehan kosong belaka. Kita harus memiliki senjata moral yang amat dibutuhkan untuk menanggulangi banyak krisis yang mengelilingi diri kita, baik selaku individu maupun sebagai bangsa agar eksistensi kita sebagai manusia tidak terancam. Tidak mempunyai iman dan keyakinan, berarti melepaskan kemanusiaan kita.

Jadi, tidak peduli apakah nilai etika dan moral itu sama dengan dogmatisme yang melahirkan intoleransi sekali pun, kita harus tetap memandang penting perlunya nilai etika dan moral di era modern ini. Meskipun nilai etika dan moral ini ada yang bersifat spesifik dan ada juga yang bersifat universal, namun tanpa keduanya, eksistensi kemanusiaan kita bisa musnah, berubah menjadi binatang berwujud manusia yang mengumbar segala hasrat duniawi tanpa batas dan aturan. Hingga menciptakan hukum rimba “siapa yang kuat, maka dia lah yang menang”. Dan menjebak kita dalam budaya hedonisme yang sia-sia, lebih parah lagi membuat kita melupakan tujuan hakiki dari proses penciptaan kita di dunia ini. Kita seperti tidak tahu darimana berasal dan ke mana hendak pulang.

Barkatlangit.wordpress.com

Berbagi apa pun yang bisa dibagi

2 thoughts on “Krisis spiritual, etika dan moral

  1. Betul Mas Danis, kita hidup dalam dunia yg sedang berubah. Perunahan cepat dalam kemajuan materi berimbas pada immateri. Nilai2 kita dalam etika, misalnya, belum berubah. Tp pemujaan thd materi pada suatu saat menerabas perbatasan etika. Lalu masuk egoisme yg mencari logis mengapa itu harus dilakukan. Akibatnya ya gitu deh, tarik menarik, menciptakan krisis. Entah sampai kapan etika dapat bertahan..mesti kita tunggu dlm jalur evolusinya

    • Ya memang seperti itu, tapi saya berkeyakinan bahwa etika, spiritual maupun moral akan bertahan sebagai pegangan…hanya menunggu timing yang tepat untuk menjadi booming. Pada satu titik tertentu, saya yakin kesadaran manusia sejelek apa pun pasti akan tersentuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s