QE2

AS Bakal Terjebak Krisis Gelombang Kedua

Oleh: Ahmad Munjin
Ekonomi – Rabu, 8 Juni 2011 | 15:11 WIB
INILAH.COM, Jakarta – Quantitative Easing (QE) tahap dua akan berakhir Juni ini. Sayangnya, indikator ekonomi AS tak kunjung membaik. Negara adidaya itu justru bakal terjebak pada resesi gelombang kedua. Seperti apa?

Pengamat ekonomi David Sumual mengatakan, setelah Quantitative Easing (Pelonggaran Kuantitatif/QE) tahap dua senilai US$600 usai pada Juni 2011, AS bisa terjebak pada krisis gelombang kedua. Sebab, obat moneter itu tidak membuat indikator ekonomi AS membaik.

QE, lanjut David, tidak bermanfaat bagi sektor riil melainkan sektor finansial karena memang program QE, hanya obat dari sisi moneter yang bisa memicu kenaikan aset di pasar modal. “Sedangkan penyaluran kredit perbankan ke sektor riil, tidak jalan,” katanya kepada INILAH.COM.

Menurutnya, ekses reserve perbankan AS ditempatkan di bank sentral (semacam Sertifikat Bank Indonesia (SBI) di Indonesia). Seperti krisis 1998, perbankan AS masih khawatir menyalurkan kredit. Dari sisi kenaikan bursa Dow Jones dan inflasi, kinerja QE dinilainya sudah berhasil. “Tapi, soal pengangguran, stimulus QE gagal melakukan tekanan ke bawah mendekati 5% tingkat pengangguran,” ujarnya.

Salah satu tujuan QE adalah menghindari deflationary cycle (siklus deflasi). Pada 2008-2009, inflasi AS sudah negatif diiringi dengan negatifnya pertumbuhan ekonomi. Jika terus berlanjut, AS akan seperti Jepang yang setelah bubble properti meletus tahun 1980-an, negeri Samurai itu mengalami resesi berkepanjangan. “Ini terefleksi pada anjloknya bursa Nikkei dari 30.000 pada 1980-an ke level 10.000 saat ini dan tidak pernah naik lagi,” paparnya.

Lalu, pecahnya bubble properti yang terjadi juga di AS pada 2008 memaksa menerapkan kebijakan QE dengan membeli surat utang pemerintah AS dengan dana US$600 miliar secara perlahan. Akibatnya, imbal hasil dari Surat Utang AS terus turun. “Untuk tenor 10 tahun turun ke level 3% dari sebelumnya di atas 4-5%,” ujarnya.

Tapi, AS berhasil mendongkrak inflasi sesuai tujuan QE. Belakangan ini, inflasi AS kembali naik. Pada April 2011, inflasi AS naik ke level 3,2% dari 1,5% pada Desember 2010. Angka ini, sudah mendekati target yang diinginkan The Fed di level 2,5%-3,5%.

Pada saat yang sama, bursa Dow Jones terus mengalami kenaikan ke level 12.560-an saat ini. Hanya saja, upaya menekan pengangguran AS yang mencapai puncaknya pada Oktober 2009 di level 10,2% belum berhasil signifikan. Sekarang tingkat pengangguran AS masih di level 9% pada April 2011 setelah sempat mencapai 8,8% pada Maret.

Karena itu, David menyimpulkan, QE tidak berpengaruh signifikan ke sektor riil. Sebab, target tingkat pengangguran AS jangka panjang di level 5%. Untuk mencapai level tersebut, AS masih butuh waktu 2 tahun. “Secara umum, QE tidak terlalu sukses. Rapornya hanya C atau nilainya hanya 6,5,” paparnya.

David menjelaskan, dana QE lari ke pasar finansial dan pasar komoditas. Karena itu, harga komoditas dan pangan naik. Secara historis, pada saat QE1 dilaksanakan, harga komoditas dan pangan naik. Pada saat QE1 selesai, harga komoditas naik, lalu enam bulan kemudian stabil di 2009. “Lalu, November 2010, kembali menjalankan QE tahap dua. Hingga Juni ini, harga komoditas terus naik,” ungkapnya.

Pada saat yang sama, sektor perumahan AS justru susah bangkit. Banyak masyarakat AS yang masih menganggur sehingga tidak bisa membayar rumah. Akibatnya, rumah tersebut disita oleh perusahaan multifinance atau bank (foreclosure).

Kebanyakan perusahaan maupun konsumen di AS, lanjut David, masih memperbaiki neraca keuangannya karena masih negatif (lebih banyak utang dibandingkan asetnya). “Karena itu, ekonomi AS belum bergerak,” imbuhnya. [mdr]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s