transformers

Sisi LainTransformers


Pernahkah anda menonton film The Transformers ? Film ini bercerita tentang sekelompok robot yang dapat merubah wujudnya menjadi berbagai bentuk lain. Ada dua kelompok robot dalam film ini, yaitu autobots (baik) dan decepticon (jahat). Mereka bertarung  memperebutkan mesin ”teleport the pillar”. Kelompok yang satu ingin menginvasi dan menghancurkan bumi, sedangkan kelompok lainnya berusaha mencegah invasi dan berusaha menyelamatkan bumi.

Apa yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini bukanlah kisah lengkap film tersebut, melainkan ide atau khayalan yang melintas di benak saya setelah menonton film ini. Saya jadi berimajinasi, seandainya manusia dapat merubah bentuk, kira-kira akan seperti apa jadinya? Berbagai sosok dan corak figur berlompatan dalam pikiran saya mulai dari yang indah-indah sampai yang cukup menyeramkan pun terus bermunculan. Sampai suatu saat, sosok dan corak figur itu menjadi buyar seketika dan saya terjaga dari lamunan karena mendengar tangisan anak lelaki saya yang terbangun dari tidurnya.

Bebarengan dengan terputusnya aliran pikiran dari alam imajiner dan bergeser kembali ke alam realitas, menyeruak pula suatu format kesadaran baru, bahwa sebetulnya ada kemiripan antara manusia dengan para robot dalam film transformer itu.  Bahkan, lakon dalam film transformer itu juga sebetulnya merupakan kisah klasik yang setiap waktu terjadi dalam kehidupan manusia. Pertarungan antara kejahatan dan kebaikan, antara keserakahan dengan kesederhanaan, ketakaburan dengan kerendahan hati, kekerasan dengan kelembutan adalah sebagian kecil contoh benturan-benturan yang biasa terjadi dalam panggung kehidupan manusia. Tampaknya memang klise. Mungkin sudah berlangsung sejak manusia generasi pertama diciptakan dan baru akan berakhir ketika hari “penghisaban” oleh sang khalik tiba.

Manusia pun sanggup berubah wujud (baca : transformasi) sama seperti para robot itu, hanya saja proses perubahan yang terjadi pada manusia jauh lebih kompleks, mencakup berbagai aspek kehidupan. Adalah hal yang logis kalau perubahan yang terjadi pada manusia berlangsung lebih rumit, sebab rekayasa genetika manusia oleh sang pencipta dirancang jauh lebih canggih dan lengkap dibanding robot. Manusia memiliki dua dimensi dalam sisi penciptaannya, ada sisi yang terlihat oleh indera mata berwujud raga kasar (fisik) dan sisi lainnya tidak kasat mata berupa “ruh”  atau jiwa. Contoh kongkretnya kira-kira seperti ini : dalam struktur biologis manusia ada organ otak dan jantung (sebagian orang menyebutnya hati), sedangkan bagian tidak terlihat dari kedua organ tadi diwakili oleh pikiran dan perasaan.

Transformasi atau perubahan diri manusia bisa dilihat dari berbagai sudut, sekaligus sebagai bukti bahwa perubahannya benar-benar rumit dan berproses sepanjang waktu, walaupun tidak banyak orang yang menyadarinya. Sebagai contoh kecil mari kita lihat transformasi raga kasar (fisik) manusia, dilihat dari keberlangsungannya secara garis besar bisa dibagi dua, yaitu yang bersifat natural atau alami dan yang bersifat artifisial atau disengaja.

Perubahan raga kasar manusia secara alami biasanya terjadi karena faktor ”U” (baca : umur), proses perubahan yang terjadi dimulai dari janinàbayiàbalitaàremajaàdewasaàtua. Sedangkan perubahan yang bersifat artifisial atau disengaja, contohnya seperti : orang kurus yang ingin berbadan kekar melatih dirinya di gym (fitness), perempuan yang ingin kelihatan lebih cantik melakukan operasi plastik di bagian tertentu tubuhnya, atau orang gemuk yang terpaksa diet karena ingin terlihat langsing dan sebagainya. Dilihat dari sisi kekuatan fisik, semakin tua semakin rapuh dan lemah raganya. Dilihat dari sisi kualitas, ada keadaan sakit dan kondisi sehat.  Dilihat dari asal muasalnya, dari tidak adaàada (hidup)àmati (tidak ada).

Sementara itu, transformasi diri sisi tidak terlihat manusia (baca: ruh/jiwa/psikologis) juga kurang lebih sama dengan proses perubahan raga kasar (fisik) di atas.  Secara natural, perubahan pikiran dan perasaan manusia juga tumbuh berkembang seiring sejalan dengan pertambahan umur.Dimulai dari tidak tahu apa-apaà kekanak-kanakan àlabil (pencarian jati diri) àstabil àkemunduran (kembali kekanak-kanakan).

Idealnya semakin bertambah umur kedewasaan pikiran dan pengendalian emosi atau perasaannya harusnya bertambah baik. Secara artifisial, banyak yang bisa dilakukan oleh manusia seperti : kalau ingin pintar harus rajin dan tekun belajar, ada juga yang ikut sekolah kepribadian untuk tujuan tertentu, ada yang ikut terapi yoga dan meditasi supaya lebih baik emosi dan kesehatan jiwanya, bahkan ada yang sampai membayar jasa psikiater dan sebagainya.

Perubahan yang terjadi secara kontinyu dalam dua sisi yang terlihat dan tidak terlihat dari manusia, sering tidak kita sadari diiringi juga oleh perubahan pada embel-embel predikat atau atribut-atribut lainnya, baik yang berhubungan dengan keduniawian maupun keakhiratan. Banyak momen penting yang dialami setiap individu dan  menjadi titik tolak atau titik balik perubahan 180 derajat dalam hidupnya, seperti : perubahan status, jabatan, kedudukan, kekayaan, kekuasaan, pengetahuan, teknologi, kecerdasan,  kebahagiaan, kesedihan, kesabaran, keikhlasan, kesalehan, keimanan, ketakwaan dan lain sebagainya. Banyak di antara kita yang tidak hanya mengalami evolusi dalam proses transformasi dirinya, tapi sudah berada dalam tataran revolusi drastis, bertransformasi secara ajaib dan mengubah total seluruh jalan hidupnya.

Pertanyaan yang menggelitik sanubari berkaitan dengan transformasi diri ini adalah hamparan kenyataan yang terpampang di depan mata, bahwa ternyata kehidupan manusia itu sama sekali tidak bersifat statis, tapi justru sebaliknya sangat dinamis, lantas kalau begitu siapa saja yang harus melakukan transformasi ? apa tujuan transformasi ini? Mengapa manusia harus bertransformasi ? kapan transformasi harus dimulai ? kemana arah transformasi ini ? bagaimana cara paling efektif melakukannya? Saya mencoba mencari jawaban pertanyaan di atas menurut versi saya, bisa benar bisa salah, bisa sebagian benar sebagian salah, bisa semua benar dan semua salah.

Jawabannya menurut kaca mata saya kurang lebih seperti ini : setiap yang merasa dirinya manusia wajib melakukan transformasi diri untuk memelihara kualitas humanitasnya dan memerangi sifat kebinatangan dalam dirinya. Tujuannya adalah supaya bisa menjadi abdi-abdi Tuhan yang memperoleh keridhoan-Nya. Mengapa ? Sebab Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak mau merubah nasibnya. Kapan? Waktu adalah Asset, mulailah secepat mungkin jangan ditunda-tunda, waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali, sekalian aji mumpung..(mumpung masih ada umur). Kemana ? perubahan yang terjadi bisa bersimpang jalan, bisa ke arah yang lebih baik atau bisa juga menuju arah yang lebih buruk dari keadaan sekarang, tergantung pilihan masing-masing. Bisa untuk kepentingan duniawi saja, bisa juga untuk  kepentingan akhirat saja atau bisa juga untuk kepentingan keduanya. Bagaimana caranya? Yang paling mengenal diri kita adalah kita sendiri, maka dari itu anjuran saya adalah cari metode yang paling pas sesuai kebutuhan dan karakter diri kita masing-masing. Yang jelas, mulailah dari sekarang, mulai dari apa yang kita bisa dan mulai dari hal paling kecil serta sederhana.

Fokus utama perhatian saya berkaitan dengan transformasi diri ini sebenarnya adalah  optimalisasi kesadaran, kemauan, semangat dan upaya atau ikhtiar kita dalam melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Sebab, percaya atau tidak, disadari atau tidak, mau atau tidak, setiap diri kita sebenarnya sedang bergerak mengayunkan langkah, setapak demi setapak berjalan meninggalkan kehidupan semu dunia ini menuju kehidupan langgeng akhirat.  Melepaskan atribut kehidupan menggapai predikat kematian. Melenggang dengan pasti, menjauhi kefanaan mendekati keabadiaan. Pertanyaannya adalah keabadian yang mana? Nirwana atau neraka ? Silahkan pilih!

Barkatlangit.wordpress.com ;) Sharing whatever can be shared

2 thoughts on “Sisi LainTransformers

  1. Aduh, senang menemukan tulisan ini Pak. Blog saya judulnya jurnal transformasi, pengen merubah kehidupan selalu kearah yang lebih baik. Tapi belum pernah menulis selengkap dan sedalam ini tentang transformasi diri. Thanks atas sharingnya yang mencerahkan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s