inflation

Inflasi dan Pilihan Instrumen Investasi

Dampak Inflasi Terhadap Investasi

Beberapa hari belakangan ini isu kenaikan harga BBM menjadi topik hangat yang ramai diperbincangkan banyak orang, baik di lingkungan hidup sekitar kita maupun di media massa, entah itu media cetak atau pun media elektronik. Rencana pemerintah menaikkan harga BBM per 1 april 2012 itu banyak menuai reaksi pro dan kontra dari berbagai kalangan. Media televisi menjadi ajang adu argumentasi tentang kenaikan harga BBM ini, mulai dari anggota DPR, pakar perminyakan, para ekonom, pengamat sosial politik, asosiasi pengusaha, pihak pemerintah dan masih banyak lagi para tokoh lain dari beragam profesi. Sementara itu di jalanan tak ketinggalan pula para mahasiswa, aktifis senior, LSM dan sebagainya berlomba-lomba menyalurkan aspirasinya lewat demo masal, menolak kenaikan harga BBM. Hal ini tidak hanya terjadi di ibu kota saja tetapi hampir merata di semua daerah di Indonesia, kita bisa menyaksikannya lewat televisi atau membaca beritanya di media cetak dan portal berita di internet. Salah satu kekhawatiran dari mereka yang kontra terhadap rencana kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM  ini adalah efek dominonya yang dapat memacu kenaikan inflasi dan angka kemiskinan di Indonesia.

Apa yang dimaksud inflasi?

Dalam ilmu ekonomi, inflasi diartikan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinyu). Dengan kata lain, inflasi juga berarti menurunnya nilai mata uang secara kontinyu. Jika inflasi meningkat, nilai uang kita juga secara otomatis akan menyusut. Akibatnya, dengan jumlah uang yang sama kita hanya mampu membeli produk atau jasa dalam jumlah yang semakin sedikit. Tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan baru dianggap benar-benar terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling mempengaruhi. Tingkat inflasi dinyatakan dengan persen (%) dalam kurun waktu satu tahun. Berdasarkan tingkat kenaikannya, inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun. Sedangkan dilihat dari ragamnya terdapat beberapa jenis atau variasi inflasi, antara lain :

·         Deflasi. Ini adalah lawan dari inflasi. Jadi, dalam deflasi, harga barang dan jasa justru turun.

·         Hiperinflasi. Ini terjadi jika inflasi menyentuh angka yang sangat tinggi. Hiperinflasi pernah terjadi di Jerman pada tahun 1923 ketika harga-harga melonjak sampai 2.500% dalam sebulan.

·         Stagflasi. Ini adalah kombinasi antara inflasi, pertumbuhan ekonomi yang mandek, dan pengangguran yang tinggi. Banyak negara industri mengalami stagflasi pada tahun 1970-an ketika kondisi ekonomi diperparah oleh kebijakan OPEC menaikkan harga minyak.

Apa yang menyebabkan inflasi ?

Ada dua hal yang memicu inflasi, pertama adalah peningkatan permintaan. Inflasi semacam ini disebut juga demand-pull inflation. Dalam kondisi ini, harga barang dan jasa meningkat karena permintaannya melonjak tinggi. Kedua, kenaikan biaya produksi (cost-push inflation). Pada saat biaya produksi perusahaan naik, biasanya ia juga akan meningkatkan harga produknya. Biaya produksi itu bisa mencakup gaji, pajak, harga bahan baku, dan lain-lain.

Istilah inflasi  berkaitan pula dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain : konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, termasuk juga akibat tidak tersedianya barang dan ketidak lancaran distribusi barang. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, salah satunya adalah  indeks harga konsumen (IHK) atau dalam bahasa Inggris disebut Consumer price index  (CPI).

Apa dampak inflasi?

Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Tak hanya orang miskin, orang kaya pun akan terkena dampak inflasi. Nilai uang yang mereka miliki akan sama-sama tergerus. Tapi, tentu saja, daya tahan masing-masing orang untuk bisa memikul dampak inflasi berbeda-beda. Orang miskin merasakan dampak paling pahit.

Orang menjadi tidak mempunyai semangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi, karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.

Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2012 atau dua puluh dua tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal separuhnya saja. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak selalu dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.

Kita tentu masih ingat, sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1998, kita hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp 2 – 3 juta untuk membeli sebuah sepeda motor baru. Sekarang, kisaran harga sepeda motor baru sudah bervariasi antara 13 sampai 25 juta rupiah. Selain motor, harga rumah, mobil, minyak, bensin, bahkan sampai harga nasi bungkus juga sudah mengalami kenaikan berlipat ganda dan terasa semakin mahal. Ini  menjadi fakta atau bukti, bahwa sebenarnya kita telah mengalami inflasi yang sangat tinggi dalam kurun waktu 14 tahun terakhir.

Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi lebih tinggi dibanding tingkat suku bunga, maka nilai mata uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan kucuran dana atau kredit dari bank yang salah satunya diperoleh dari tabungan masyarakat. Bagi debitur atau orang yang meminjam uang dari bank sebelum terjadinya inflasi, maka inflasi terasa menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, bagi  kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.

Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).

Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Bagaimana menyikapi inflasi?

Sebenarnya dampak inflasi juga bergantung pada jenis inflasinya, apakah masyarakat sudah mengantisipasi inflasi itu atau belum? Jika suatu inflasi sudah diantisipasi (anticipated inflation), kita bisa siap-siap untuk mengkompensasi inflasi itu. Misalnya, perbankan bisa mengubah tingkat suku bunganya atau karyawan bisa melakukan negosiasi dengan perusahaan untuk memberikan kenaikan gaji otomatis yang menyesuaikan dengan tingkat inflasi.

Masalah menjadi rumit jika inflasi itu datang tiba-tiba atau tak bisa diantisipasi (unanticipated inflation). Ambil contoh, pihak kreditur pasti akan rugi, sementara debitur atau pengutang untung jika kreditur itu tak bisa mengantisipasi inflasi dengan tepat. Ketidakpastian juga akan membuat perusahaan dan konsumen menunda konsumsinya. Ujung-ujungnya, ekonomi dalam jangka panjang akan terganggu. Selain itu, daya beli orang yang memiliki gaji tetap seperti pensiunan juga pasti akan merosot.

Namun demikian, jangan hanya melihat inflasi dari sudut pandang negatif. Sebab, sebenarnya inflasi juga memberikan sinyal-sinyal positif tentang perekonomian suatu negara. Sejatinya, adanya inflasi merupakan tanda bahwa ekonomi suatu negara sedang tumbuh. Bahkan, dalam kondisi tertentu, inflasi yang terlalu rendah (atau bahkan deflasi) sama buruknya dengan inflasi yang tinggi. Inflasi yang rendah itu mungkin merupakan pertanda bahwa ekonomi sedang melemah. Misalnya, inflasi yang rendah itu muncul karena tingkat produksi perusahaan rendah atau konsumsi masyarakat melambat. Kesimpulannya, kita tak bisa selalu mengatakan bahwa inflasi merupakan hal yang buruk.

Memahami seluk-beluk investasi sangat penting bagi para investor. Sebab, inflasi juga mempengaruhi nilai uang yang diinvestasikan oleh investor. Inflasi itu akan menggerus keuntungan para investor. Jadi, investor harus hati-hati memilih produk investasi. Jika asal menanam, bukannya tumbuh berkembang biak, malahan dana yang ditanamkan oleh investor justru terancam menyusut.

Dampak inflasi terhadap portofolio investasi, sangat bergantung pada jenis instrumen investasi yang kita miliki. Jika hanya berinvestasi di saham, kita mestinya tak perlu terlalu khawatir. Pasalnya, dalam jangka panjang, pendapatan dan laba emiten saham akan tumbuh mengikuti inflasi. Karenanya, dalam jangka panjang, inflasi juga akan membuat harga saham selalu naik. Jadi, kita tak perlu khawatir inflasi itu akan menggerus investasi saham kita.Namun, ada pengecualian saat terjadi stagflasi. Kombinasi ekonomi yang buruk dan peningkatan biaya produksi membuat kinerja perusahaan itu juga memburuk.

Lain lagi ceritanya investor yang berinvestasi di instrumen pendapatan tetap. Mereka ini justru akan mengalami dampak paling buruk dari inflasi. Ambil contoh, setahun yang lalu, seorang investor menginvestasikan Rp 1 miliar dalam sebuah obligasi atau deposito yang memberikan imbal hasil 10% per tahun. Artinya, saat ini nilai investasi investor itu telah berkembang menjadi Rp 1,1 miliar (untung Rp.100 juta). Tapi, apakah keuntungan yang Rp 100 juta itu benar-benar riil? Jawabannya tidak. Jika inflasi satu tahun terakhir 6%, artinya keuntungan riil investor itu sebenarnya hanya 4% atau sekitar Rp.40 juta.

Contoh ini menunjukkan perbedaan antara bunga nominal dan bunga riil. Bunga nominal adalah tingkat pertumbuhan jumlah uang Anda. Adapun bunga riil adalah pertumbuhan riil dari daya beli Anda. Dengan kata lain, rumus bunga riil adalah : bunga nominal dikurangi dengan inflasi.

Siapa yang berwenang mengendalikan inflasi?

Jawabannya adalah bank sentral, di Indonesia predikat ini disandang oleh bank Indonesia (BI). Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan besaran inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen, kebijakannya tidak boleh dan tidak bisa diintervensi oleh pihak luar termasuk pemerintah. Bank sentral umumnya mengandalkan pengaturan jumlah uang  beredar dan tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs).  Saat ini, negara-negara maju berusaha menjaga inflasi mereka di angka 2%-3%. Sementara, di negara-negara berkembang biasanya tingkat inflasinya lebih tinggi.

 Barkatlangit.wordpress.com ;) Sharing whatever can be shared

 

One thought on “Inflasi dan Pilihan Instrumen Investasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s