etika promosi

Etika Promosi

Kesantunan Dalam promosi

Rehat dari berbagai aktivitas yang menjadi rutinitas harian sambil nonton TV ditemani secangkir kopi panas di sore hari memang terasa mengasyikan. Tapi itu pun ada embel-embelnya, dengan catatan kita nggak peduli, nggak ambil pusing dan bersikap masa bodoh dengan banjir iklan yang ditayangkan di sela-sela acara favorit kita, “Commercial break” itulah istilah populernya. Mengapa saya terkesan keki, sebel, atau marah terhadap tayangan iklan tersebut ? Sebab beberapa waktu yang lalu saya pernah menjadi korban iklan. Gara-gara terhipnotis dengan iklan di media televisi, saya pernah gonta ganti provider seluler dan hasilnya saya merasa kecewa, dibohongi, kapok, dan dirugikan, walaupun secara materil jumlahnya mungkin tidak seberapa. Janji-janji muluk seperti nelpon gratis, tarif murah dan seabrek promosi lainnya ternyata membingungkan, terkesan diplintir bahkan mungkin bisa dikategorikan penipuan.

Kalau sudah begini mau ngadu sama siapa? Ya sudah, pasrah saja jadi konsumen buntung alias korban iklan. Karena saya juga menyadari sebagian kesalahan ada pada diri sendiri, terlalu bernafsu, naif, penasaran dan cepat percaya terhadap iklan. Sekarang, kalau melihat iklan saya jadi geregetan maunya buru-buru berpindah chanel siaran. Sialnya, stasiun-stasiun TV seperti janji kompak-an menyiarkan tayangan iklan di jam yang sama. Tinggal-lah saya dengan gerutuan dan tangan sibuk memijit-mijit tombol remote mencari stasiun TV yang tidak sedang menayangkan iklan. Mungkin stasiun-stasiun TV juga mulai menyadari, banyak pemirsa mereka yang berpindah kanal atau saluran ketika durasi iklan sedang tayang.

Apa yang diceritakan di atas mungkin pula merupakan potret komunikasi marketing atau pemasaran di Indonesia dewasa ini. Perusahaan kelas kakap pun tidak sungkan berstrategi bisnis ala tukang obat di pinggir jalan yang sering saya tonton ketika masih kecil dulu. Mayoritas perusahaan menggelontorkan dana milyaran rupiah untuk belanja iklan setiap tahunnya dalam rangka menghasilkan promosi yang dapat menggaet konsumen sebanyak mungkin. Media elektronik atau Televisi menjadi ajang perang iklan antar kompetitor, sebagian diantaranya terkadang terkesan saling menjatuhkan, kasar, vulgar dan kurang kreatif.

Iklan dan promosi yang cenderung menyesatkan juga banyak berkeliaran dan sering kita jumpai di Internet. Tawaran penghasilan 20 juta rupiah/bulan tanpa bekerja sambil duduk santai di rumah atau produk-produk kesehatan yang menjanjikan khasiat instant secara fantastis, begitu banyak berseliweran menanti calon korban dan terasa tidak masuk akal. Pada kenyataannya mana ada seorang ibu rumah tangga mendapat 6 juta rupiah perminggu hanya dengan mendownload sebuah ebook cara berbisnis online. Misal lainnya, seperti produk pelangsing tubuh yang diilustrasikan dapat melangsingkan tubuh dalam tempo singkat tanpa harus repot-repot berolah raga, menerapkan pola makan teratur, membiasakan hidup sehat dan sebagainya. Padahal, ketika konsumen membeli dan mencobanya ternyata khasiat produk tersebut tidak seperti yang dijanjikan. Hasilnya, bukan badannya yang langsing melainkan dompet konsumen lah yang bertambah langsing.

Iklan seyogyanya menjadi alat yang ampuh bagi promosi penjualan produk atau jasa. Berisi informasi menarik dan menggugah selera mereka yang menyaksikannya, tapi bukan berarti sengaja dirancang untuk membohongi dan menipu konsumen. Slogannya jangan dibalik, “kami memberi bukti bukan janji” jangan sampai diplesetkan menjadi “kami memberi janji bukan bukti”. Integritas, komitmen, kebenaran, kepercayaan dan kejujuran adalah bagian tak terpisahkan dari suatu promosi yang sehat dan selayaknya menjadi prioritas utama dan fokus perhatian pihak-pihak yang menyelenggarakan promosi.

Dalam sebuah mata rantai bisnis, kebanyakan pada akhirnya konsumen juga lah yang menanggung biaya promosi yang dikeluarkan perusahaan, entah lewat kenaikan harga, PPN, dihitung sebagai biaya produksi dan sebagainya. Memang tidak salah menjual barang atau jasa, yang salah adalah seandainya para produsen merancang sebuah tujuan komersil tanpa memegang teguh “etika atau kesantunan promosi” bisnisnya, apalagi jika sampai mengandung unsur penipuan. Bagaimana pun, dalam setiap profesi atau dalam setiap tata kehidupan ada kode etik tertentu yang harus dipatuhi oleh para pelakunya, termasuk oleh mereka yang terlibat dalam aktifitas promosi.

Para produsen dan pemilik jasa, hendaknya semakin sensitif dan responsif dengan keluhan serta masukan dari konsumen. Manfaatkanlah keberadaan dan kegunaan jejaring sosial, seperti facebook, twitter dan lain-lain untuk menampung komplain dan masukan dari konsumen, serta untuk memelihara relasi dan interaksi dengan para pengguna produk dan jasa mereka. Terus menerus mengasah skill yang berhubungan dengan kreatifitas produksi dan promosi, jika perlu lakukan konsultasi atau bekerja sama dengan perusahaan jasa konsultan marketing yang handal dan terpercaya. Sedangkan bagi para konsumen, diharuskan lebih teliti dan berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian suatu produk atau jasa, jangan sampai menjadi korban iklan berikutnya. Jadilah konsumen yang cerdas. Be a smart consumer !

barkatlangit.wordpress.com🙂 Sharing whatever can be shared

3 thoughts on “Etika Promosi

  1. Mas Danis, saya juga sering jadi korban iklan. Tapi berkat itu jadi tahu bahwa tak satupun iklan kosmetik itu produknya seperti yg diiklankan..Dan tampaknya semua perempuan juga sepakat. Hanya saja karena pikiran alam bawah sadar terus digelontor oleh informasi yang tak benar, para perempuan tetap saja membeli kosmetik dengan harapan mendapat apa yg mereka janjikan. Itu mah customer putus asa ya Mas …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s