kesadaran1

Kesadaran, Keikhlasan dan Kebahagiaan

Selama ini kita tentu sering mendengar kata “kesadaran”, sebenarnya apa yang dimaksud kesadaran itu ? Berapa banyak dari kita yang telah secara sungguh-sungguh berupaya untuk memahaminya? Dari mana kesadaran itu berasal ?

Saya nggak ingat persis susunan kata-katanya, namun menurut beberapa referensi yang pernah saya pelajari hampir semuanya sepakat mengatakan, bahwa kesadaran hanya bisa datang dari hati atau nurani yang “hidup dan bicara”, berbeda dengan pengetahuan yang berasal dari otak dan olah pikir manusia. Sedangkan tulisan, kata-kata, buku atau pun bahasa adalah manifestasi dari ocehan pikiran manusia.

Kesadaran adalah hasil pergumulan panjang pengembaraan manusia ke dalam dirinya untuk mencoba mencari arti “kesempurnaan” hidup yang hakiki. Dalam prosesnya kadang kala manusia terpaksa harus keluar dari zona kenyamanan yang dimilikinya, dan memasuki wilayah atau “zona 2 in 1” antara hamba dengan Tuhannya, antara makhluk dengan khaliknya.

Penghayatan mendalam terhadap kesadaran ini, pada akhir perjalanannya dapat membantu manusia mencapai fitrat sejati sebagai makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT di semesta raya ini. Semakin sering bermonolog dengan diri sendiri dan berdialog imajiner dengan Tuhannya (baca : Do’a), semakin besar peluang manusia untuk mengenal diri sendiri. Barang siapa mengenal dirinya sendiri, maka ia akan mengenal Tuhannya. Jangan pernah khawatir atau ragu, sesuai dengan hukum sunatullah dan sifat kodrati Allah SWT yang maha berbicara juga maha mendengar, maka Dia akan berbicara kepada barang siapa yang dikehendakinya dan akan mendengar permohonan hamba-hamba yang dipilihnya.

Pengenalan secara utuh terhadap diri dan Tuhannya akan mengantarkan manusia ke level tertinggi jenjang kesadarannya. Karena itu, manusia akan memahami dengan jelas posisi keberadaannya dan dapat menempatkan dirinya secara proporsional. Di hadapan manusia lain, kedudukannya adalah sederajat yang membedakan hanya tingkat keimanan dan ketakwaan saja. Dibandingkan dengan makhluk lain yang diciptakan oleh Allah SWT manusia tentu lebih sempurna dan bisa jadi berkedudukan lebih mulia seandainya dapat memelihara fitrat kesempurnaannya. Di saat lainnya, dimensi keterbatasan manusia menjadi begitu jelas terlihat dan membuat manusia berubah menjadi makhluk lemah tak berdaya, tatkala berhadapan dengan Tuhannya. Dengan demikian menjadi maklum adanya, bahwa manusia ternyata menyandang harkat, martabat atau derajat yang situasional dan kondisional sifatnya.

Oleh karena itu, manusia dengan kesadaran tinggi selalu menggabungkan upaya atau ikhtiar, ketekunan dan kekuatan doa dihatinya sebagai fondasi dalam meraih tujuannya. Tidak hanya mengandalkan kekuatan pikiran dan ototnya melulu, melainkan juga menciptakan kolaborasi atau penggabungan antara “positive thinking” yang merupakan kinerja otak dengan “positive feeling” yang berhulu dari kesucian dan kebesaran hati. Manusia-manusia seperti ini memiliki kesadaran dan keyakinan, bahwa apapun jenis, bentuk dan tingkat pencapaian hidupnya sebagian besar adalah berkat bantuan tangan gaib Tuhannya dan bukan akibat kerja kerasnya semata.

Kesadaran dalam tataran paling tinggi akan bermuara pada apa yang disebut keikhlasan. Dalam ajaran agama, “ikhlas” setidaknya mengandung beberapa komponen, diantaranya terdiri dari : sikap syukur, sabar, fokus, tenang, dan bahagia. Di balik hiruk pikuk aktifitas kehidupan di dunia ini, tentu ada sesuatu hal yang dicari oleh manusia. Benar! kebahagiaan adalah kata yang paling dicari-cari oleh setiap insan, bukan hanya sekedar kesenangan atau kenyamanan-kenyamanan hidup semata.

Dalam upaya meraih kebahagiaan ini tak jarang manusia menghalalkan segala cara demi tercapainya apa yang mereka idam-idamkan. Padahal untuk menemukan kebahagiaan itu kita mungkin tidak perlu “bepergian” terlalu jauh, karena sebenarnya esensi kebahagiaan itu sangat dekat dengan diri kita. Bahkan, siapa tahu kita justru sedang berdiri tepat di atasnya.

Yang diperlukan hanyalah menemukan kata ikhlas dan mengadopsinya dalam keseharian hidup kita. Rasa ikhlas akan menuntun kita untuk menikmati setiap proses perjalanan hidup ini. Rasa ikhlas yang benar membuat kita mampu untuk menerima dan mensyukuri apapun qodho dan qodhar pemberiannya, entah itu ketentuan yang baik maupun ketentuan yang buruk.

Dengan kekuatan ikhlas yang sebenarnya, setiap bahasa tubuh maupun bahasa verbal kita akan meningkat menjadi bahasa hati bukan lagi sekedar bahasa otak. Sehingga apapun yang keluar dari diri kita akan mengandung kebenaran dan kebahagiaan. Jadi, barang siapa memiliki “nurani yang hidup dan bicara”, maka ia akan dekat dengan kesadaran yang melahirkan keikhlasan dan menelurkan embrio kebahagiaan. Inilah yang akan mengarahkan dan mengantarkan manusia pada fitrat hakikinya sebagai makhluk paling sempurna.

barkatlangit.wordpress.com Smile Sharing whatever can be shared

2 thoughts on “Kesadaran, Keikhlasan dan Kebahagiaan

  1. Meningkatkan kesadaran dengan menukik lbh dalam ke dalam batin, begitu ya mas Danis? Disana kita bicara pd diri sendiri, mengolah informasi yg dibawa otak untuk jd bahasa nurani. Nice post Mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s