writing

‘Menulis’…Tak Semudah Membalik Tangan

Pada awal sejarahnya menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya seperti pahatan-pahatan pada dinding goa prasejarah, tulisan hieroglif pada zaman Mesir kuno dan sebagainya. Teknik menulis mengalami perkembangan dan peralihan dari gambar ke bentuk aksara dimulai pada masa bangsa Sumeria (Irak kuno) dengan menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Kode-kode atau tanda-tanda itu mewakili bunyi, berbeda dengan tulisan gambar yang mewakili kata-kata atau benda. Pada era kerajaan di nusantara, menulis dilakukan melalui daun lontar yang diukir dengan menggunakan pisau pangot.

Menulis adalah skill atau keahlian dasar yang sudah kita pelajari sejak sekolah dasar. Secara harfiah, menulis berarti melakukan kegiatan pencatatan tentang suatu informasi atau data tertentu pada suatu media dengan menggunakan huruf atau aksara. Di era modern yang serba canggih dan serba komputer ini, media tulisan terus bertransformasi seiring kemajuan teknologi. Tidak hanya di atas kertas dengan menggunakan pensil atau pena, tapi juga sudah menggunakan kecanggihan sistem komputasi, sehingga sudah beralih rupa dalam bentuk atau format digital, seperti : ebook (elektronik book), file PDF, Word dan sebagainya.

Bagaimana dengan sisi teknik dan keterampilan menulis dari manusianya ? Apakah berbanding lurus atau berbanding terbalik dengan kemajuan dan perkembangan media tulisnya ? Sungguh sulit untuk mengetahui dengan pasti. Via tulisan ini saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi yang dialami anak perempuan saya yang masih duduk di kelas 4 sekolah dasar (SD). Ketika diberi tugas oleh gurunya untuk membuat karangan tentang riwayat hidup Nabi Ibrahim dalam tiga paragraf ternyata mengalami kesulitan untuk menyelesaikan PR tersebut. Padahal, buku referensinya sudah diberikan, sehingga terpaksa saya turun tangan untuk membantu dan menuntunnya. Saya tidak tahu apakah anak-anak yang lain juga mengalami kesulitan yang sama atau tidak ? Saya juga nggak paham apakah kesulitan itu berakar dari kapasitas intelektual anak saya semata atau ada pengaruh juga dari sistem kurikulum pendidikan sekolah yang kurang kondusif dalam melatih kemampuan menulis anak ?

Kisah kasuistis di atas ternyata mampu menjadi stimulan untuk terjadinya flashback atau kilas balik sejarah perjalanan kehidupan saya. Masih terekam kuat dalam ingatan ketika masa sekolah dulu, banyak kawan-kawan saya yang panik ketika ditugaskan membuat paper atau makalah. Begitu pula ketika masa kuliah, beberapa kawan seangkatan tidak menamatkan kuliahnya, padahal hanya tinggal satu hal saja yang perlu dilakukan yaitu menulis atau menyusun skripsi dan mempertanggungjawabkan karya tulisnya di hadapan sidang. Sekarang, saya jadi menduga-duga, jangan-jangan hal itu disebabkan karena mereka mempunyai kesulitan mengembangkan keterampilan menulisnya.

Lantas tanpa disadari, saya pun hanyut dalam keasyikan memutar ulang film dokumenter masa sekolah saya dulu yang masih teringat dalam memori pikiran yang mulai menurun daya ingatnya. Saya mencoba mereview episode demi episode, kejadian demi kejadian dan kesimpulannya menurut opini pribadi, adalah bahwa sistem pendidikan pada zaman saya hanya berlangsung satu arah dan terlalu text book. Dulu, belum ada yang namanya mbah google atau om wikipedia, bahkan internet pun seingat saya belum populer. Guru memegang peranan sentral dan murid diperlakukan bagaikan bayi yang belum bisa makan sendiri, bisanya cuma disuapi. Mungkin karena terbiasa dengan pola pendidikan seperti itulah, sehingga banyak diantara kita yang kurang fasih menulis. Bagaimana dengan sistem pendidikan zaman sekarang ? Saya juga nggak tahu pasti jawabannya. Mungkin saja kurikulumnya sudah dirancang untuk pola pendidikan dua arah, tapi kalau praktisinya masih memakai gaya lama zaman saya, terlalu sentral peranannya, ya berarti cuma beda tipis saja.

Tentu saja tulisan ini tak bermaksud memvonis kekurang-mampuan anak saya atau menghakimi kekurang-sempurnaan kurikulum pendidikan sekolah, bahasan ini cuma sekedar menuturkan realitas yang mungkin dialami oleh banyak orang. Saya hanya ingin menegur diri sendiri yang sering menasihati anak untuk rajin membaca, tapi lupa mengarahkan minat dan mengasah bakat anak untuk mengembangkan keterampilan atau skill menulisnya. Hampir setiap ada kesempatan saya selalu mempropagandakan pentingnya membaca kepada anak, bahwa buku adalah jendela ilmu, bla bla bla, tapi jujur saya tidak pernah merekomendasikan bahwa keterampilan menulis pun sama pentingnya. Baru setelah ada kejadian di atas, saya menyadari kesalahan sendiri.

“Menulis” (baca : dalam tanda kutip), secara esensial, berarti kemampuan menuangkan, menterjemahkan, mengembangkan atau mengaktualisasikan ide-ide yang ada dalam kepala, mengubahnya menjadi untaian kata-kata penuh makna yang disebut tulisan. Sumber inspirasinya bisa datang dari mana saja, entah dari buku, karya tulis orang lain, koran, tabloid, majalah, televisi, lingkungan sosial maupun dari alam, dan sebagainya. Konon, murid sekolah dasar di negara maju seperti Amrik sana, sudah mahir dan terlatih membuat tulisan pendek seperti esai, artikel, dan sebagainya. Mereka sudah dibiasakan “menulis” sejak dini. Tak heran jadinya, banyak lahir penulis-penulis besar di negara mereka. Mengapa kita tidak meniru hal positif seperti ini, jangan cuma bisa meniru gaya hidupnya saja yang terkadang malah bertentangan dengan budaya dan norma.

Keterampilan atau skill “menulis” tidak lahir begitu saja, tapi memerlukan proses belajar yang panjang dan perlu dilatih terus menerus. Beberapa dari kita mungkin punya talenta luar biasa dalam bidang tulis menulis, istilahnya “born to be a writer”. Namun, bagi mereka yang nggak punya bakat khusus pun tidak perlu berkecil hati. Dengan kemauan dan ketekunan kita bisa mengasah skill “menulis” secara perlahan. Ibarat melatih otot-otot di gym atau fitness center, keterampilan menulis pun perlu dilatih setahap demi setahap, sedikit demi sedikit, pelan-pelan tapi konstan.

Blog adalah salah satu media yang cukup menyenangkan untuk dijadikan sasana atau tempat mengasah keahlian “menulis”. Saya pun termasuk di antara orang yang sedang belajar mengembangkan keterampilan “menulis” melalui dunia blog. Bagi para blogger tentunya sudah pernah mengalami sulitnya membuat tulisan untuk diposting di blog masing-masing. Apalagi pada saat dihadapkan pada momen-momen di mana sedang berlangsung kebuntuan ide untuk dijadikan bahan tulisan. Adalah menjadi suatu seni yang menarik dan menantang, ketika kita berusaha tetap produktif ditengah kebuntuan ide dan keterbatasan skill menulis yang dimiliki.

Dari sisi pelaku, dalam dunia tulis menulis tidak terlepas dari dua predikat yang mengiringi yaitu subjek dan objek, di mana penulis berperan sebagai subjek dan pembaca memainkan bagian sebagai objek. Saya pribadi berkeinginan untuk menciptakan keseimbangan yang proporsional dengan tidak selamanya menjadi objek dan tidak 100 % menjabat sebagai subjek. Saya ingin anak-anak saya pun bisa seperti itu.

Dicermati dari sudut pandang ekonomi dan popularitas, menjadi penulis ternyata juga cukup menjanjikan. Banyak orang yang sudah membuktikan dari bukan apa-apa berubah menjadi sukses dan terkenal melalui kepiawaiannya dalam bidang tulis menulis. Di Indonesia, sebagai contoh sebut saja Andrea Hirata dengan “Laskar Pelangi”-nya, atau Dewi D Lestari dengan “Supernova”-nya. Di mancanegara, J.K. Rowling sang penulis “Harry Potter” secara tiba-tiba melejit menjadi sosok fenomenal yang digandrungi pembaca di seluruh dunia dan memberikan royalti yang mengantarkannya pada tingkat kesejahteraan yang belum pernah dialaminya.

Uraian di atas memberi gambaran bahwa “menulis” selain sebagai pelepasan hobi dan aktualisasi diri, juga berpotensi untuk dijadikan sebagai pilihan profesi atau karir yang unik dan langka di dunia ini. Kelebihan berkarir sebagai penulis adalah tidak dibatasi ruang dan waktu, selama masih ada kemauan dan menyenanginya, menjadi penulis bisa dilakoni seumur hidup tanpa mengenal usia pensiun. Sekali pun pada prakteknya ternyata “menulis” itu tidak lah semudah membalik tangan.

Barkatlangit.wordpress.com:)Sharing whatever can be shared

5 thoughts on “‘Menulis’…Tak Semudah Membalik Tangan

  1. Mungkin kesalahan kurikulum sekolah kita disini Mas Danis, bahwa kita hanya dibiasakan mencatat..mencatat…dan mencatat. Mencatat kan hanya menuangkan apa yg dilihat keatas kertas, tidak begitu merangsang cara berpikir sebab bahannya sdh ada. Coba kalau sekolah membiasakan kita mengeluarkan pendapat, ingin mencari tahu apa yang kita rasakan, dan bagaimana pandangan kita terhadap satu mata pelajaran, saya kira anaknya Mas Danis takan pernah kesulitan memaparkan tentang riwayat Nabi Ibrahim🙂
    Yah, mau gak mau, kita terpaksa menyalahkan sekolah dalam hal kurangnnya kemampuan kita dalam menulis🙂

    • hehehe…bener juga ya…enaknya emang nyari kambing hitem saja deh🙂,kabarnya sih kurikulumnya sudah dirancang untuk mengembangkan cara berpikir anak, tapi prakteknya nggak tahu deh🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s