tujuan

Menjawab Pertanyaan ‘Nyleneh’ Seorang Anak

Belum lama berselang anak saya bertanya secara spontan, “apa guna atau tujuan beragama, mengapa mesti ada agama dan kenapa ada banyak agama ?” Aduh biyung, sungguh saya dibuat puyeng tujuh keliling oleh pertanyaan ini. Kok, anak sekarang pertanyaannya aneh-aneh sih ? Mungkin kami berdua sama bingungnya, yang satu bingung karena keingin-tahuan, yang satunya bingung mencari jawaban. Ada beberapa alasan kenapa saya kelimpungan untuk menjawab pertanyaan sederhana anak saya tersebut.

Alasan Pertama, terus terang saja saya sendiri belum pernah secara sungguh-sungguh memikirkan apa tujuan dari adanya agama dan mengapa kita harus beragama? Kedua,  dalam proses pencarian jawaban itu saya mulai menyadari bahwa ada berbagai kesenjangan, seperti faktor umur, pengalaman, kapasitas intelektual dan tingkat kesadaran antara saya sebagai orang tua dengan anak saya. Ketiga, saya belum mempunyai pengetahuan atau jawaban mendetail yang cukup memadai untuk diterangkan nantinya. Keempat, saya tidak pernah menduga anak saya akan melontarkan pertanyaan semacam ini jika melihat usianya yang baru berumur 8 tahun.

Jadi waktu itu saya hanya menjawab alakadarnya dan berusaha mengkomunikasikannya dengan gaya bahasa paling sederhana yang kemungkinan bisa dicerna dan dimengerti oleh anak saya. Namun saya berjanji padanya akan mencarikan jawaban yang komplit untuk dipelajari bersama. So, begitu ada waktu, saya pun memulai aktifitas googling di dunia maya dan setelah hampir setengah harian lamanya berhasil juga mengumpulkan beberapa artikel berkaitan dengan pertanyaan di atas. Dan uraian di bawah ini adalah hasil rangkuman, editing, kesimpulan dan pemahaman “versi beta” saya tentang tujuan daripada agama.

Tujuan pokok daripada menganut suatu agama adalah agar kita memperoleh kepastian berkaitan dengan Tuhan yang menjadi sumber dari keselamatan, seolah-olah kita bisa melihat Wujud-Nya dengan mata lahir kita. Unsur kejahatan dalam dosa akan selalu mencoba menghancurkan manusia. Dimana seseorang tidak akan bisa melepaskan diri dari racun fatal yang disebut dosa, sampai ia itu meyakini sepenuh hati beriman kepada Tuhan yang Maha Sempurna dan Maha Hidup, yang menghukum para pendosa dan mengganjar para muttaqi (orang bertaqwa) dengan kenikmatan yang kekal.

Merupakan fenomena umum, bahwa jika kita meyakini akan efek-efek fatal yang ditimbulkan sesuatu, maka dengan sendirinya kita tidak akan mendekatinya. Sebagai contoh, tidak akan ada orang yang menenggak racun secara sadar. Tidak akan ada orang yang secara sengaja berdiri di depan seekor harimau liar. Tidak juga orang mau memasukkan tangannya ke lubang ular berbisa.

Lalu, mengapa orang melakukan dosa secara sengaja? Sebabnya adalah karena ia tidak memiliki keyakinan penuh mengenai hal tersebut, sebagaimana dengan hal-hal lain yang dicontohkan tadi.

Dalam agama Islam ada tiga tahap keyakinan, yaitu ilmal yaqin, ai’nal yaqin dan haqqul yaqin. Il’mal yaqin adalah keyakinan yang didasari ilmu pengetahuan yang kita miliki, seperti jika melihat asap di kejauhan kita pasti dengan mudah bisa menduga dan meyakini bahwa di situ pasti ada api, walau pun belum tentu asap tersebut berasal dari api. Keyakinan ini akan naik levelnya menjadi a’inal yaqin manakala kita mendatangi tempat asap itu berada dan melihatnya dengan mata kepala sendiri, bahwa di situ memang ada api. Kemudian, akan meningkat pula derajatnya menjadi haqqul yaqin tatkala kita nekat menyentuh atau memegang api itu dan mengalami atau merasakan langsung panasnya, maka kita akan benar-benar yakin seyakin-yakinnya, bahwa itu memang api bukan halusinasi.

Demikian juga dalam beragama, tugas pertama seseorang adalah berusaha memperoleh keyakinan mengenai eksistensi Tuhan dan menganut suatu agama yang melalui mana hal itu bisa dicapai. Sehingga, dengan begitu ia akan menjadi takut kepada Tuhan dan menjauhi perbuatan dosa. Lalu bagaimana supaya bisa memperoleh keyakinan yang demikian?

Jelas bahwa hal seperti itu tidak akan bisa didapat hanya melalui dongeng-dongeng atau mitos-mitos. Tidak juga bisa diperoleh melalui argumentasi saja. Satu-satunya cara untuk memperoleh keyakinan adalah dengan mengadakan pendekatan berulang kali terhadap Tuhan, serta bercakap-cakap dengan Wujud-Nya (berdoa) atau dengan menyaksikan berbagai tanda-tanda-Nya yang luar biasa, atau juga melalui kedekatan dengan seseorang yang memiliki pengalaman demikian.

Jadi, mengapa mesti ada agama ? Jawabannya adalah agar manusia memperoleh keselamatan dari kesesatan hawa nafsunya dan menciptakan kecintaan pribadi kepada Allah yang Maha Kuasa melalui keimanan kepada eksistensi-Nya dan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna. Kecintaan kepada Allah merupakan surga yang akan mewujud dalam berbagai bentuk di akhirat nanti. Tidak menyadari akan adanya Tuhan dan menjauh dari Wujud-Nya adalah neraka yang akan berbentuk macam-macam di akhirat nanti. Menjadi jelas adanya, bahwa tujuan hakiki seorang manusia sudah sewajarnya adalah beriman sepenuhnya kepada Tuhan.

Kemudian timbul pertanyaan, agama manakah dan kitab apakah yang dapat memenuhi keinginan demikian? Walau pun saya memiliki pilihan dan keyakinan pribadi, tetapi saya tidak ingin berkomentar atau membahas masalah ini karena menyadari bahwa hal tersebut bukan wilayah atau domain wewenang manusia. Masalah itu sudah memasuki zona eksklusif yang menjadi hak prerogatif Allah SWT dengan pintu hidayah-Nya. Dan sifatnya sudah berupa interaksi vertikal langsung antara Tuhan dengan hambanya.

Yang jelas, tujuan menerima suatu agama adalah agar Allah yang Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri dan tidak membutuhkan akan ciptaan-Nya atau pun sembahan dari ciptaan-Nya itu, akan berkenan dengan diri kita. Sehingga kita bisa memperoleh rahmat dan kasih-Nya yang bisa menghapuskan noda dan karat dalam batin. Dengan cara demikian dada kita akan dipenuhi oleh keyakinan dan pemahaman yang benar.

Hal seperti itu tidak akan mungkin bisa dicapai oleh seorang manusia melalui upayanya sendiri. Karena itu Allah yang Maha Agung yang menyembunyikan Wujud-Nya serta keajaiban ciptaan-Nya seperti ruh, malaikat, surga, neraka, kebangkitan (kiamat), kenabian dan lain-lain yang hanya dibukakan sebagian saja melalui penalaran, akan menunjuk (memberi hidayah) hamba-hamba-Nya yang akan beriman pada semua misteri itu.

Di samping kebijaksanaan Allah SWT yang menurunkan suatu agama samawi disesuaikan berdasarkan tingkat peradaban, ilmu pengetahuan dan kebudayaan suatu umat pada masanya, adalah faktor hidayah ini pula yang menjadi jawaban pertanyaan kenapa ada banyak agama ? Jadi, harus kita sadari, bahwa keyakinan beragama mutlak berpulang dan tergantung kepada hidayah-Nya. Tak ada seorang pun yang berhak dan boleh atau bisa mencampuri urusan Tuhan, apalagi merampas hak istimewa atau hak prerogatif-Nya. Tidak juga negara.

Catatan :

Terima kasih anakku atas pelajaran berharga lewat pertanyaan spontan dan ‘nyleneh’ darimu. Bapak menemukan hal mendasar yang terlupakan dan seharusnya sudah digali dan dipahami sejak dulu. Walau pun jadinya terkesan khotbah, tapi nggak apa-apa, hitung-hitung belajar tabligh atau jadi khatib…hehehe…

barkatlangit.wordpress.com :) Sharing whatever can be shared

6 thoughts on “Menjawab Pertanyaan ‘Nyleneh’ Seorang Anak

  1. Memberikan jawaban dan penjelasan tentang masalah serumit itu kepada nak tentu akan sangat membingungkan. Gak kebayang jika terjadi pada saya.
    karena itu, keknya saya musti ikut berterima kasih juga lantaran mendapatkan pemahaman yang baru di sini

  2. Waktu saya baca artikel anda, saya manggut-manggut sambil bertanya dalam hati “Iya ya, ko’ selama ini saya sampai ga kepikiran mencari tahu apa alasan saya beragama?!” hehe…Terima kasih atas pencerahannya Mas.
    Dan semoga anak saya kelak tidak bertanya “Ayah…waktu aku lahir aku keluar dari mana ya?…”, masa harus saya jawab “Kamu dibawa oleh bangau putih dari awan ” hehe…:D. Terus terang saya masih belum mempunyai jawaban yang pas untuk anak sekecil itu, karena saya khawatir jika salah menjawab maka akan salah paham dan terjadi penyesatan atau pembodohan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s